BANJARMASIN, Realitaspost.com – Dua dekade perjalanan Majelis Ta’lim Siti Khadijah Banjarmasin menjadi momentum istimewa untuk kembali memperkuat kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Memasuki tahun ke-20, majelis tersebut menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah dengan mengangkat tema “Menjadi Wanita yang Dirindukan Surga.”
Kegiatan berlangsung khidmat di Aula Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Senin (7/9/2026), dan diikuti para jamaah, pimpinan majelis ta’lim, serta tamu undangan.
Peringatan Maulid semakin semarak dengan kehadiran Ustazah Fatimah Assegaf, Pimpinan Majelis Ta’lim Asshofa Jakarta, yang didapuk memberikan tausiah kepada jamaah.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan Yasin, Maulid Simthudduror dan lantunan selawat yang diiringi Tim Hadroh MT Almira Banjarmasin.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj. Ananda, para pimpinan majelis ta’lim, jamaah serta sejumlah undangan lainnya.
Sejak awal kegiatan, suasana religius begitu terasa. Para jamaah mengikuti rangkaian pembacaan Maulid dengan penuh kekhusyukan.
Lantunan sholawat dan pujian kepada Rasulullah SAW menjadi bagian penting dari peringatan yang sekaligus menjadi ruang mempererat silaturahmi antarmajelis dan masyarakat.
Bagi Majelis Ta’lim Siti Khadijah, Maulid Nabi bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mengingat perjuangan Rasulullah SAW sekaligus menggali keteladanan beliau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiyahnya, Ustazah Fatimah Assegaf secara khusus mengajak kaum perempuan untuk melakukan introspeksi terhadap peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan.
Tema “Menjadi Wanita yang Dirindukan Surga” dinilai sangat relevan karena perempuan memiliki peran penting, baik sebagai individu, istri, ibu maupun bagian dari masyarakat.
Menurutnya, predikat perempuan yang dirindukan surga tidak ditentukan oleh kemewahan, kedudukan maupun penampilan. Hal yang jauh lebih penting adalah kualitas iman, ibadah dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal utama yang ditekankan adalah menjaga ibadah wajib. Salat lima waktu harus menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan, sementara puasa Ramadan dijalankan dengan istiqamah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Ibadah, kata dia, merupakan fondasi yang akan membentuk karakter seorang Muslimah. Ketika hubungan dengan Allah terjaga, diharapkan hubungan dengan sesama manusia juga semakin baik.
Selain ibadah, perempuan juga diingatkan untuk senantiasa menjaga kehormatan diri.
Menjaga kehormatan tidak hanya berkaitan dengan cara berpakaian, tetapi juga mencakup kesucian diri, sikap, perilaku dan terutama lisan.
Lisan, menurut pesan yang disampaikan dalam tausiah, harus dijaga karena perkataan dapat menjadi sumber kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber persoalan apabila tidak dikendalikan.
Karena itu, seorang perempuan hendaknya membiasakan diri bertutur kata dengan lembut, menghindari perkataan yang menyakiti serta mampu menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya.
Kelembutan Perempuan Menjadi Kekuatan Keluarga.
Ustazah Fatimah Assegaf juga menyoroti peran perempuan dalam membangun keharmonisan keluarga.
Kesabaran dan kelembutan menjadi dua hal penting yang perlu terus dipelihara dalam kehidupan rumah tangga. Perempuan yang mampu menjaga suasana keluarga dengan kasih sayang dinilai memiliki peran besar dalam menciptakan rumah yang menjadi tempat tumbuhnya ketenangan dan kebaikan.
Bagi perempuan yang telah menikah, menjaga hubungan baik dengan suami juga menjadi bagian dari tanggung jawab rumah tangga.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian tausiah yang mendapat perhatian jamaah. Sebab, kehidupan rumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga kesabaran, saling menghargai, komunikasi dan kemauan untuk menjalankan peran masing-masing dengan penuh tanggung jawab.
Ketua Majelis Ta’lim Siti Khadijah, Dra. Hj. Syarifah Saqinah, yang juga merupakan anggota DPRD Kota Banjarmasin, mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini.
“Alhamdulillah, kita dari Majelis Ta’lim Siti Khadijah telah melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah bersama Ustazah Fatimah Assegaf,” ujarnya.
Menurutnya, terselenggaranya kegiatan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh pengurus dan jamaah, terlebih karena kegiatan dapat dihadiri Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj. Ananda.
“Kita sangat bersyukur, bahagia dan bangga karena Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj. Ananda, sudah meluangkan waktunya untuk hadir bersama kita,” katanya.
Ia juga menyampaikan salam dari istri Gubernur Kalimantan Selatan Hj. Fathul Jannah kepada seluruh jamaah yang hadir.
Menurut Syarifah, Gubernur Kalsel sebenarnya menyampaikan perhatian dan doa untuk kegiatan tersebut. Namun, karena sedang berada di luar daerah, beliau belum dapat hadir secara langsung.
“Ibu Gubernur Kalsel Hj. Fathul Jannah juga titip salam buat semuanya. Karena posisi beliau sedang berada di luar daerah, beliau meminta doa kepada ustazah dan kita semua,” ungkapnya.
Syarifah menjelaskan, Majelis Ta’lim Siti Khadijah selama ini secara rutin melaksanakan kegiatan keagamaan setiap bulan.
Momentum bulan Rabiul Awal kemudian dimanfaatkan untuk menggelar peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat kecintaan jamaah terhadap Rasulullah.
“Majelis Ta’lim Siti Khadijah setiap bulan melaksanakan kegiatan. Karena sekarang bulan Rabiul Awal, kita memperingati kelahiran Rasulullah SAW,” jelasnya.
Peringatan tahun ini juga memiliki keistimewaan tersendiri. Untuk pertama kalinya, Majelis Ta’lim Siti Khadijah menghadirkan ustazah dari luar daerah untuk memberikan tausiah kepada jamaah.
Kehadiran Ustazah Fatimah Assegaf dari Jakarta diharapkan memberikan warna baru sekaligus memperkaya wawasan keagamaan jamaah.
“Ini pertama kalinya diisi oleh ustazah Fatimah Assegaf dari luar daerah. Ke depan kita jadwalkan setahun sekali mengadakan Maulid Akbar. Mudah-mudahan ustazah bisa kembali mengisi majelis kami,” harapnya.
Syarifah menilai materi yang disampaikan Ustazah Fatimah Assegaf sangat relevan dengan kehidupan perempuan saat ini.
Menurutnya, pesan tentang bagaimana menjadi perempuan yang dirindukan surga bukan hanya untuk didengar, tetapi harus menjadi bahan renungan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam isi ceramah tadi sangat bermakna sebagai perempuan yang dirindukan surga. Terutama yang masih mempunyai suami, ternyata mendapatkan ridha suami itu sangat baik dan merupakan salah satu pintu surga,” tuturnya.
Ia berharap seluruh jamaah yang hadir dapat membawa pulang pesan Maulid tersebut dan menjadikannya sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah serta memperbaiki akhlak.
Bukan hanya hubungan dengan Allah SWT yang harus diperbaiki, tetapi juga hubungan dengan keluarga, tetangga dan lingkungan sekitar.
Maulid sebagai Momentum Memperbaiki Diri
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Majelis Ta’lim Siti Khadijah akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial.
Dua puluh tahun perjalanan majelis menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan berbasis jamaah masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat.
Melalui pengajian rutin, pembacaan Maulid dan kegiatan keagamaan lainnya, Majelis Ta’lim Siti Khadijah berupaya mempertahankan semangat kebersamaan sekaligus memberikan ruang bagi kaum perempuan untuk terus belajar dan memperdalam nilai-nilai agama.
Pesan yang dibawa dalam peringatan kali ini pun sederhana namun mendalam: menjadi perempuan yang baik bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus berusaha memperbaiki diri, menjaga ibadah, menjaga kehormatan, memperindah akhlak, serta menghadirkan kebaikan bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Dengan semangat tersebut, perjalanan 20 tahun Majelis Ta’lim Siti Khadijah diharapkan menjadi awal untuk semakin memperluas manfaat dan memperkuat kegiatan keagamaan di Kota Banjarmasin.
Dan di tengah lantunan sholawat serta kecintaan kepada Rasulullah SAW, para jamaah kembali diingatkan bahwa Maulid bukan hanya tentang mengenang kelahiran seorang manusia mulia, tetapi juga tentang meneladani akhlaknya dan berusaha menghadirkan ajarannya dalam kehidupan nyata. (puj)







Berita