Berita

Breaking News

Nobar Film KUYANK, Owner Rumah Makan Basit Ajak Karyawan Dukung Perfilman Lokal

BANJARMASIN, Realitaspost.com  – Menonton film Kuyank (2026) menjadi pilihan menarik bagi pecinta horor lokal yang ingin merasakan nuansa mencekam khas Kalimantan. Film ini tak hanya menyuguhkan teror, tetapi juga menghadirkan kearifan lokal Banjar yang kental.

Owner Rumah Makan Basit di kawasan Jalan Handil Bakti, Herry, bahkan mengajak seluruh karyawannya untuk nonton bareng (nobar) film Kuyank di KCM Banjarmasin, Kamis (5/2/2026) sore.

Herry mengaku bangga melihat perkembangan dunia perfilman Tanah Air, khususnya keterlibatan talenta Banua dalam film tersebut.

“Alhamdulillah, perfilman kita semakin bagus. Kita lihat pemeran artis dan aktornya, apalagi ada orang Banua seperti Kaka Rina Basrindu DD atau Acil Imas, aktingnya luar biasa. Kita bangga sebagai orang Banjar,” ujarnya.

Ia berharap ke depan semakin banyak film baru yang lahir dari daerah dan mampu mengharumkan nama Banjarmasin di kancah nasional.

Film Kuyank sendiri mengangkat sosok Kuyang, makhluk gaib dalam cerita rakyat Kalimantan yang digambarkan sebagai kepala manusia terbang dengan organ tubuh yang masih menggantung.

Dalam kepercayaan lokal, Kuyang kerap disebut sebagai jelmaan perempuan yang mempelajari ilmu hitam demi hidup abadi, dengan target darah ibu hamil atau bayi sebagai tumbal.

Tak sedikit penonton mengaku merasakan pengalaman horor yang intens, terutama berkat desain makhluk Kuyang yang dinilai realistis dan mengganggu secara visual.

Dalam waktu singkat, Kuyank berhasil meraih lebih dari 300 ribu penonton, dan diprediksi berpeluang menembus 500 ribu penonton dalam waktu dekat.

Film ini diproduseri oleh Johan Syah Jumberan dan dibintangi sejumlah nama ternama seperti Rio Dewanto, Putri Intan Kasela, Ochi Rosdiana, Jolene Marie, Bery Prima, serta Rina DD Basrindu, dan sejumlah pemeran lainnya.

Salah satu kelebihan utama Kuyank adalah kuatnya representasi budaya Banjar, mulai dari penggunaan bahasa Banjar dalam dialog hingga penggambaran adat seperti betapung tawar dalam upacara pernikahan.

Unsur budaya ini memberi warna tersendiri sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi penonton.

Dengan sambutan positif masyarakat dan dukungan pelaku usaha lokal seperti Rumah Makan Basit, Kuyank diharapkan menjadi pemantik lahirnya lebih banyak karya film daerah yang mampu bersaing di level nasional. (puj)

© Copyright 2022 - Realitas.com