BANJARMASIN, Realitaspost.com – Upaya pelestarian budaya lokal terus digelorakan di Kalimantan Selatan melalui kegiatan prosesi adat perkawinan Banjar bertajuk pengantin bausung yang bertempat di Taman Budaya di Jalan Brigjen Hasan Basri, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Tim Penggerak PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Dharma Wanita Persatuan Kalsel, Dharma Wanita Kota Banjarmasin, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, hingga Harpi Melati Kalsel, SMKN 4 Banjarmasin jurusan tata rias, serta mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel dalam sambutannya menegaskan bahwa adat dan budaya tidak boleh terlepas dari nilai agama serta akhlak.
Menurutnya, tradisi Banjar sarat dengan nilai etika dan makna luhur, salah satunya tercermin dalam prosesi pengantin bausung.
“Pengantin diusung layaknya raja dan ratu sehari. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi simbol bahwa pernikahan adalah peristiwa sakral yang dimuliakan keluarga, dihormati masyarakat, dan dipenuhi doa,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tradisi ini menggambarkan kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat Banjar.
Banyak pihak terlibat dalam setiap tahapan prosesi, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, sebagai bentuk dukungan sekaligus doa bagi kedua mempelai.
Di tengah derasnya arus globalisasi, ia mengingatkan pentingnya menjaga akar budaya.
“Selama budaya Banjar kita jaga, jati diri banua akan tetap berdiri tegak,” tambahnya, sembari memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya penerima manfaat dana pengelolaan kebudayaan.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Hj. Siti Saniah menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pemanfaatan dana bantuan hasil kelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk kategori perseorangan, dengan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kalsel.
Ia menjelaskan bahwa prosesi pengantin bausung merupakan warisan budaya yang kaya nilai filosofis.
Rangkaian adat dimulai dari balarap, dilanjutkan dengan badudus—tradisi mandi bagi keturunan bangsawan pada abad ke-16 hingga 17—kemudian prosesi mandi-mandi, pemasangan pagar mayang, hingga rias pengantin.
Selanjutnya, dilakukan arak-arakan pengantin yang diiringi pasukan hadrah, sebelum memasuki rangkaian prosesi di rumah mempelai perempuan, seperti bahurup palimbayan, basusuap, bakukumur, hingga makan bersama dengan hidangan khas Nasi Astakona.
“Kegiatan ini tidak hanya menampilkan keindahan adat, tetapi juga memperlihatkan struktur simbolis dan nilai kehidupan masyarakat Banjar yang penuh makna,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Taman Budaya Kalsel, tim kesenian seperti penabuh gamelan, hadrah, penari kuda bepang, serta tim tari Radap Rahayu yang turut menyukseskan acara.
Lebih lanjut, Hj. Siti Saniah berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda, khususnya siswa SMKN jurusan tata rias dan mahasiswa, agar tidak hanya mengenal tetapi juga bangga serta turut melestarikan budaya Banjar.
“Kita ingin prosesi perkawinan adat Banjar tetap utuh dan tidak tergerus modernisasi. Saat ini banyak kreasi yang berkembang, namun esensi tradisi jangan sampai hilang,” tegasnya.
Digelar di ruang terbuka publik, kegiatan ini diharapkan mampu memperkenalkan kembali kekayaan budaya Banjar kepada masyarakat luas sekaligus menjadi langkah konkret dalam menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup dan berkembang di masa depan. (puj)









Berita