Berita

Breaking News

Dra. Hj. Siti Saniah, M. Pd Masuk Daftar Penerima Bintang Award XII 2026, Konsisten Angkat Budaya Banjar

BANJARMASIN, Realitaspost.com  – Dra. Hj. Siti Saniah, M.Pd masuk sebagai salah satu kandidat penerima penghargaan bergengsi Bintang Award XII Tahun 2026 bertema “Anugerah Bintang Mahakarya Intan Kalimantan”.

Perempuan yang lahir di Kota Baru, 28 Mei 1958 ini dikenal luas sebagai sosok yang aktif memperjuangkan pemberdayaan perempuan sekaligus pelestarian budaya Banjar. 

Ia berdomisili di kawasan Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara, dan kini berkiprah sebagai purnabakti ASN, wirausaha, serta Ketua Komunitas Perempuan Banua (IPB) Kalimantan Selatan.

Dengan visi untuk memberi manfaat bagi kaum perempuan, khususnya dalam kehidupan keluarga, Siti Saniah terus mendorong perempuan agar berperan sebagai penjaga nilai budaya di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

Ia menyoroti kuatnya pengaruh budaya luar yang masuk, sehingga membuat sebagian generasi muda mulai melirik budaya asing dibandingkan budaya sendiri. Kondisi ini, menurutnya, harus disikapi dengan langkah nyata agar warisan budaya Banjar tidak tergerus.

“Pelestarian budaya bisa dilakukan lewat berbagai cara, seperti membuat konten kreatif di media sosial, dokumentasi video, hingga ke depan disusun menjadi buku sebagai referensi pembelajaran,” jelasnya.

Ia juga menilai bahwa pendekatan kreatif sangat diperlukan agar budaya tradisional tetap relevan. 

Salah satunya melalui pengemasan ulang kesenian daerah seperti musik panting dengan sentuhan modern, misalnya dikolaborasikan dengan alat musik kekinian dan tarian yang lebih dinamis.

Selain kesenian, perhatian juga diberikan pada adat istiadat Banjar, terutama tradisi pengantin Bausung yang memiliki nilai filosofi tinggi dan tahapan ritual yang panjang.

Dalam prosesi tersebut terdapat beberapa tahapan penting, seperti balarap yang melambangkan peralihan masa seorang gadis, dilanjutkan batimung menggunakan bahan tradisional, hingga bemandi-mandi seperti bekusup dan bekasi cingkaruk.

Proses mandi pun dilakukan secara khusus, bisa di atas dedampar, gong, atau simbol adat lain sesuai garis keturunan.

Tahap akhir adalah baarak pengantin, yakni arak-arakan meriah yang dahulu menjadi tradisi kebersamaan masyarakat sebagai bentuk kebahagiaan atas pernikahan serta penghormatan kepada kedua mempelai.

Upaya pelestarian tradisi ini juga telah ditampilkan dalam pergelaran budaya di Taman Budaya Banjarmasin beberapa waktu lalu, dengan harapan mampu menarik minat generasi muda.

Siti Saniah berharap, melalui berbagai inovasi dan kegiatan budaya, generasi muda semakin mengenal dan mencintai budaya Banjar.

Ia optimistis, jika dikemas secara menarik tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur, budaya daerah akan tetap bertahan dan menjadi kebanggaan bersama.

Penghargaan yang akan diterimanya menjadi bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam menguatkan peran perempuan sekaligus menjaga kelestarian budaya Banua di tengah arus globalisasi. (puj)

© Copyright 2022 - Realitas.com