BANJARMASIN, Realitaspost.com – Setiap bulan suci Ramadan, pasar takjil di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan, selalu dipadati pembeli menjelang waktu berbuka puasa. Suasana serupa juga terlihat di sejumlah titik di Kota Banjarmasin.
Menariknya, yang datang tidak hanya umat Muslim. Warga non-Muslim pun turut antre membeli aneka hidangan berbuka. Fenomena ini kerap disebut sebagai “war takjil”, yakni momen ketika banyak orang berlomba mendapatkan takjil favorit seperti kolak, es buah, hingga gorengan sebelum dagangan ludes terjual.
Di tengah ramainya pembeli, para pedagang tetap melayani semua pelanggan tanpa membedakan latar belakang agama. Interaksi berlangsung hangat dan penuh rasa saling menghormati.
Canda ringan antara penjual dan pembeli kerap terdengar, menciptakan suasana Ramadan yang akrab dan penuh kebersamaan.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kota Banjarmasin, Augustina Zebua menilai fenomena tersebut sebagai cerminan kuatnya nilai toleransi di tengah masyarakat.
Menurutnya, Ramadan bukan hanya menjadi momen ibadah bagi umat Muslim, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial dalam keberagaman.
“Keikutsertaan warga non-Muslim membeli takjil menunjukkan bahwa kebersamaan dan rasa saling menghargai tetap terjaga. Ini adalah wajah Banjarmasin yang rukun dan harmonis,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebiasaan berburu takjil bersama ini secara tidak langsung membangun ruang interaksi lintas agama yang positif.
Selain menggerakkan perekonomian pelaku UMKM, pasar takjil juga menjadi simbol persatuan di tengah perbedaan.
Fenomena “war takjil” pun bukan sekadar tren musiman, melainkan gambaran nyata kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan secara damai.
Di Banjarmasin, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat solidaritas dan persaudaraan antarwarga.



Berita